GNU/LinuxJanuary 27, 2006 7:25 am

Kemaren saya iseng nyobain live CD nya Ubuntu. Penasaran apa sih bedanya ama Debian. Setelah klik sana klik sini saya menemukan smeg - Simple Menu Editor. Kepincut saya dengan kemudahan penggunaannya. Saya berniat nginstall di PC saya yang di kantor. Cari-cari dengan apt-cache …ee yang ketemu malah si alacarte ini. Si smeg kagak ketemu :( .

Iseng-iseng saya coba install lalu saya jalanin. Wuaahh ternyata tampilannya sama dengan smeg. Penasaran dengan hal ini akhirnya googling. Ternyata alacarte ini adalah salah satu virtual package milik Debian. Virtual package adalah package yang mempunyai kegunaan fungsi atau user interface sama dengan satu atau lebih package lainnya. Mungkin Ubuntu mengkustomisasi dan men-tune-up ulang alacarte kemudian dipaketkan kembali dengan nama yang lain. Dari salah satu milis yang saya dapat ketika googling, smeg lebih gegas daripada alacarte.

Alacarte adalah software yang bagus. UI nya simple dan mudah digunakan. Semua fungsional untuk melakukan pengaturan menu bagi saya sudah mencukupi. Mungkin satu yang kurang, yaitu tidak ada menu atau pop up menu untuk copy, cut dan paste sebuah menu entry ke folder menu lainnya. Walaupun hal ini masih dapat dilakukan dengan drag & drop. Berikut saya sertakan pula screenshot nya :) .

Alacarte screenshot

Have fun with it :) !!

GNU/LinuxJanuary 26, 2006 12:57 pm

Dengan menggunakan expect, kita bisa mengotomatisasi telnet via script untuk login dengan user dan password yang kita include di dalam script tsb tanpa menginputkannya secara manual dari console. Namun demikian utilitas ini (expect) tidak secara default tersedia di semua UNIX atau UNIX-likes. Bagi para debianer tinggal : apt-get install expect :)

Berikut ini contoh script yang secara otomatis login via telnet kemudian menjalankan command date :

#!/usr/bin/expect —
spawn telnet nakula
expect “ogin:”
send “tes\r”
expect “assword:”
send “123456\r”
expect “:~$ ”
send “date\r”
expect “:~$ ”
send “logout\r”
close

Have fun :) !!

GNU/LinuxJanuary 25, 2006 6:55 am

Apabila kita sering melakukan pemrosesan data yang source nya file teks, seringkali pula kita berhadapan dengan masalah format. Format file teks yang ditulis di lingkungan OS Windows mempunyai format yang berbeda dengan yang ditulis di lingkungan UNIX, yaitu pada akhir barisnya. Format Windows menulis akhir baris sebagai gabungan 2 karakter ASCII yaitu <CR> (Carriage Return) dan <LF> (Line Feed). Sedangkan UNIX memproses akhir baris sebagai <LF> saja. Karakter apabila kita baca dari UNIX akan tampil sebagai string “^M”.

Solusi untuk masalah ini amat mudah karena di lingkungan UNIX cukup banyak tools yang bisa digunakan. Berikut ini beberapa alternatif yang bisa digunakan untuk mengkonversi format Windows -> UNIX bahkan bisa pula sebaliknya :

Utilitas tr
Dengan tr kita bisa membuang karakter <CR> dan Ctrl-Z dengan perintah berikut :

tr -d ‘\15\32′ < winfile.txt > unixfile.txt

Utilitas awk
Untuk mengkonversi file teks Windows ke UNIX gunakan perintah berikut :

awk ‘{ sub(”\r$”, “”); print }’ winfile.txt > unixfile.txt

Untuk mengkonversi file teks UNIX ke Windows gunakan perintah berikut :

awk ’sub(”$”, “\r”)’ unixfile.txt > winfile.txt

Script Perl
Untuk mengkonversi file teks Windows ke UNIX gunakan perintah berikut :

perl -p -e ’s/\r$//’ < winfile.txt > unixfile.txt

Untuk mengkonversi file teks UNIX ke Windows gunakan perintah berikut :

perl -p -e ’s/\n/\r\n/’ < unixfile.txt > winfile.txt

Utilitas vi
Untuk membuang semua karakter <CR> atau “^M” dari file teks Windows :

:1,$s/^M//g

Catatan: Untuk menginput “^M” di atas tekan Ctrl-v lalu tekan Enter

Utilitas flip
Bagi para debianer, ada util yang fleksibel untuk melakukan konversi ini yaitu flip. Secara default util ini belum terinstall.
Untuk mengkonversi file teks Windows ke UNIX gunakan perintah berikut :

flip -u winfile.txt

Tool ini juga mampu untuk mengkonversi beberapa file sekaligus dengan menggunakan wildcard sebagai parameter inputnya. Bila ingin mengkonversi semua file teks ke format UNIX :

flip -u *.txt

Selain itu, flip juga bisa membalik operasi untuk mengkonversi ke format Windows :

flip -m *.txt

GNU/Linux, JavaJanuary 20, 2006 1:25 am

Eclipse adalah IDE favorit saya untuk coding Java. Fiturnya amat lebih dari yang saya inginkan. Aktivitas development-nya juga sangat aktif. Sebelumnya saya rela switch back ke windows hanya untuk coding pake eclipse. Suatu hari saya iseng nge-search eclipse di repository debian, eee.. ketemu. Lega deh, akhirnya nambah satu lagi alasan saya untuk ninggalin windows.

Pada waktu instalasi eclipse, apt-get secara otomatis juga akan meng-install gcj (GNU Compiler for Java) dan gij (GNU Java bytecode interpreter). Setelah selesai di-install kemudian dijalankan, eclipse secara default akan memakai JVM bawaan gcj, yang ternyata bener-bener lambat prosesnya. Bahkan ketika saya top utilitas CPU saya di atas 95%. Wow, ini bener-bener ga beres. Akhirnya saya coba jalankan eclipse menggunakan JVM bawaan jdk dari Sun. Hasilnya, inilah yang bener-bener saya inginkan. Eclipse jalan lancar dan kenceng. Utilitas CPU ketika di-top juga cukup ringan.

Berikut step-step instalasi eclipse di debian :
1. Install JDK
Apabila anda ingin menggunakan JDK dari Sun seperti yang saya sarankan, bisa baca artikel saya
yang berjudul “Java on Debian”.
2. Install eclipse

# apt-get install eclipse

3. Ubah prioritas search untuk JVM di file /etc/eclipse/java_home.
Default nya adalah /usr/lib/jvm/java-gcj. Tempatkan direktori home java Anda di urutan teratas
pada file ini. Misal jika anda menginstall JDK terbaru dari Sun semenjak artikel ini ditulis
maka tinggal pindahkan saja baris “/usr/lib/j2sdk1.5-sun” menjadi yang teratas.
4. Jalankan eclipse

Have fun pren :) !!

GNU/Linux, Java 1:21 am

Hari ini saya baru tau bahwa ternyata ada tools bawaan Debian untuk mengkonversi paket installer JDK dari Sun menjadi file DEB :) . Dengan begini proses instalasi JDK di Debian semakin mudah saja. Adapun nama package tersebut adalah java-package. Package ini ada di dist contrib. Jadi apabila sources.list anda belum memasukkan dist contrib, harus anda tambahkan terlebih dahulu. Misal baris di sources.list anda sebelumnya yang tidak memasukkan contrib adalah seperti ini :
deb http://debian.indika.net.id/debian/ unstable main
Maka untuk memasukkan dist contrib, yang perlu anda lakukan adalah menambahkan string “contrib” di belakang baris di atas. Apabila perlu bisa anda tambahkan pula di deb-src nya. Setelah itu lakukan apt-get update.

Langsung saja, kira-kira berikut inilah step-step yang harus dilakukan selanjutnya :
1. Download installer JDK dari Sun
Link downloadnya adalah : http://java.sun.com/j2se/1.5.0/download.jsp
2. Install java-package dan fakeroot

# apt-get install java-package fakeroot

3. Switch ke non-root user karena java-package tidak akan bekerja dalam mode root
4. Konversikan installer JDK dari Sun ke DEB

$ fakeroot make-jpkg jdk-1_5_0_06-linux-i586.bin

Jika sukses akan dihasilkan file DEB nya.
5. Install DEB file nya sebagai root

# dpkg -i sun-j2sdk1.5_1.5.0+update06_i386.deb

Step ini akan menginstall JDK di direktori /usr/lib.

Apabila sebelumnya anda telah menginstall JDK yang tidak dari Sun, maka anda harus merubah symbolic link file /etc/alternatives/java ke compiler JDK milik Sun. Jalankan command berikut ini sebagai root :

ln -sf /usr/lib/j2sdk1.5-sun/jre/bin/java /etc/alternatives/java

Lakukan tes compiler java yang sudah terinstall : java -version
Berikut ini kira-kira output apabila proses instalasi telah berhasil :

java version “1.5.0_06″
Java(TM) 2 Runtime Environment, Standard Edition (build 1.5.0_06-b05)
Java HotSpot(TM) Client VM (build 1.5.0_06-b05, mixed mode, sharing)

Okay, sekian saja & Have fun :) !!

IslamJanuary 13, 2006 2:15 pm

Mengutip kembali artikel dari Eramuslim.com. Link lengkapnya adalah http://eramuslim.com/ks/us/5b/21762,1,v.html. Selamat menyimak :) !

————————————————————————————————————————————-
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Rasullullah SAW telah mengangkat para penulis wahyu Al-Qur’an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali bin Abi thalib ra, Muawiyah ra, ‘Ubai bin K’ab ra. dan Zaid bin Tsabit ra. Setiap ada ayat turun, beliau memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati.

Disamping itu sebagian sahabat juga menuliskan Al-Qur’an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh Rasulullah SAW. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit ra. berkata,”Kami menyusun al-Qur’an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang.” Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menulis Qur’an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut. Dan dengan demikian, penulisan Qur’an ini semakin menambah hafalan mereka.

Selain itu malaikat Jibril as membacakan kembali ayat demi ayat Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW pada malam-malam bulan Ramadan pada setiap tahunnya. Abdullah bin Abbas ra. berkata,”Rasulullah adalah orang paling pemurah dan puncak kemurahan pada bulan Ramadan, ketika ia ditemui oleh malaikat Jibril as. Beliau SAW ditemui oleh malaikat Jibril as setiap malam, dimana Jibril membacakan Al-Qur’an kepada beliau, dan ketika itu beliau SAW sangat pemurah sekali.”

Para sahabat senantiasa menyodorkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Tulisan-tulisan Al-Qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, diantaranya Ali bin Abi Thalib ra, Muaz bin Jabal ra, Ubai bin Ka’ab ra, Zaid bin Sabit ra. dan Abdullah bin Mas’ud ra. telah menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an dimasa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit ra. adalah orang yang terakhir kali membacakan Al-Qur’an dihadapan Nabi.

Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah disaat Al-Qur’an telah dihafal oleh ribuan para shahabat dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan diatas. Tiap ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf. Tetapi memang benar bahwa Al-Qur’an belum lagi dijilid dalam satu mushaf yang menyeluruh. Sebab Rasulullah SAW masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang menasahh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya.

Susunan atau tertib penulisan Al-Qur’an itu tidak menurut tertib turunnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Beliau sendiri yang menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata (pada masa Nabi) Qur’an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua cover sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi.

Az-Zarkasyi berkata, “Al-Qur’an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur’an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.”

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit ra. yang mengatakan,”Rasulullah telah wafat sedang Al-Qur’an belum dikumpulkan sama sekali.”

Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Katabi berkata,”Rasulullah tidak mengumpulkan Qur’an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar ra. atas pertimbangan usulan Umar ra.”

Pengumpulan Qur’an pada Masa Abu Bakar

Abu Bakar ra. menjalankan urusan Islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Al-Qur’an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari’ (penghafal Al-Qur’an) dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab ra. merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar ra. dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qari’.

Di segi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan di tempat-tempat lain akan membunuh banyak qari’ pula, sehingga Al-Qur’an akan hilang dan musnah, awalnya Abu Bakar ra. menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar ra. tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar ra. untuk menerima usulan tersebut, kemudian Abu Bakar ra. memerintahkan Zaid bin Sabit ra, mengingat kedudukannya dalam masalah qiraat, kemampuan dalam masalah penulisan, pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali. Abu Bakar ra. menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid ra. menolak seperti halnya Abu Bakar ra. sebelum itu. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid ra. dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Al-Qur’an itu.

Zaid ra. melalui tugasnya yang berat ini dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para qari’ dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran (kumpulan) itu disimpan di tangan Abu Bakar ra. Zaid ra. berkata,”Abu Bakar ra. memanggilku untuk menyampaikan berita mengenai korban perang Yamamah. Ternyata Umar sudah ada disana. Abu Bakar berkata: ‘Umar telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa perang yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan penghafal Al-Qur’an dan ia khawatir kalau-kalau terbunuhnya para penghafal Al-Qur’an itu juga akan terjadi di tempat-tempat lain, sehingga sebagain besar Al-Qur’an akan musnah. Ia menganjurkan agar aku memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Maka aku katakan kepadanya,”Bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?.” Tetapi Umar menjawab dan bersumpah,”Demi Allah, perbuatan tersebut baik.” Ia terus menerus membujukku sehingga Allah membukakan hatiku untuk menerima usulannya, dan akhirnya aku sependapat dengan Umar.”

Zaid ra. berkata lagi,”Abu Bakar berkata kepadaku,”Engkau seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan kemampuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Oleh karena itu carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah.” “Demi Allah”, Kata Zaid lebih lanjut”, “Sekiranya mereka memintaku untuk memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku dari pada perintah mengumpulkan Al-Qur’an. Karena itu aku menjawab,”Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?.”

Abu Bakar menjawab,”Demi Allah itu baik.” Abu Bakar tetap membujukku sehingga Allah membukakan hatiku sebagaimana ia telah membukakan hati Abu Bakar ra. dan Umar ra. Maka aku pun mulai mencari Al-Qur’an. Kukumpulkan ia dari pelepah kurma, dari keping-kepingan batu dan dari hafalan para penghafal, sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surah At-Taubah berada pada Abu Huzaimah Al-Anshari, yang tidak kudapatkan pada orang lain, yang berbunyi Sesungguhya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri… hingga akhir surah.

Lembaran-lembaran (hasil kerjaku) tersebut kemudian disimpan ditangan Abu Bakar ra. hingga wafatnya. Sesudah itu berpindah ke tangan Umar ra. sewaktu masih hidup dan selanjutnya berada di tangan Hafsah binti Umar ra.

Zaid bin Sabit ra. bertindak sangat teliti dan hati-hati. Ia tidak mencukupkan pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Kata-kata Zaid dalam keterangan di atas,”Dan aku dapatkan akhir surah At-Taubah pada Abu Khuzaimah Al-Anshari yang tidak aku dapatkan pada orang lain”, tidaklah menghilangkan arti keberhati-hatian tersebut dan tidak pula berari bahwa akhir surah At-Taubah itu tidak mutawatir. Tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak mendapat akhir surah Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah. Sedangkan Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya.

Perkataan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan, jadi akhir surah Taubah itu telah dihafal oleh banyak sahabat. Dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Ansari.

Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan,”Umar datang lalu berkata,”Barang siapa menerima dari Rasulullah SAW sesuatu dari Al-Qur’an, hendaklah ia menyampaikannya.”

Mereka menuliskan Al-Qur’an itu pada lembaran kertas, papan kayu dan pelepah kurma. Dan Zaid ra. tidak mau menerima dari seseorang sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Ini menunjukkan bahwa Zaid ra. tidak merasa puas hanya dengan adanya tulisan semata sebelum tulisan itu disaksikan oleh orang yang menerimanya secara pendengaran langsung dari Rasulullah SAW, sekalipun Zaid ra. sendiri hafal. Beliau bersikap demikian ini karena sangat berhati-hati.

Dan diriwayatkan pula oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid, “Duduklah kamu berdua di pintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah.”

Para perawi hadis ini orang-orang terpercaya, sekalipun hadits tersebut munqati,(terputus). Ibn Hajar mengatakan, “Yang dimaksudkan dengan dua orang saksi adalah hafalan dan catatan.”

As-Sakhawi menyebutkan dalam kitab Jamalul Qurra’, yang dimaksdukan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah. Atau dua orang saksi itu menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan itu Al-Qur’an diturunkan.

Abu Syamah berkata,”Maksud mereka adalah agar Zaid tidak menuliskan Al-Qur’an kecuali diambil dari sumber asli yang dicatat dihadapan Nabi, bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu Zaid berkata tentang akhir surah At-Taubah,”Aku tidak mendapatkannya pada orang lain”, sebab ia tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanya catatan.”

Kita sudah mengetahui bahwa Qur’an sudah tercatat sebelum masa itu, yaitu pada masa Nabi. Tetapi masih berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu Qur’an diturunkan. Dengan demikian Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, disamping terdapat pula mushaf-mushaf pribadi pada sebagian sahabat, seperti mushaf Ali ra, Ubai dan Ibn Mas’ud ra. Tetapi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara-cara diatas dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Juga tidak dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak dimansuk dan secara ijma’ sebagaimana mushaf Abu Bakar.

Keistimewaan-keistimewaan ini hanya ada pada himpunan Al-Qur’an yang dikerjakan Abu Bakar. Para ulama berpendapat bahwa penamaan Al-Qur’an dengan ‘mushaf’ itu baru muncul sejak saat itu, yaitu saat Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur’an. Ali ra. berkata,”Orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar ra. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar ra. Dialah orang yang pertama mengumpulkan kitab Allah.”

Pengumpulan Qur’an pada Masa Usman

Penyebaran Islam bertambah dan para penghafal Al-Qur’an pun tersebar di berbagai wilayah. Dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qiraat) Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan ‘huruf ‘ yang dengannya Al-Qur’an diturunkan. Apabila mereka berkumpul di suatu pertemuan atau di suatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini. Terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah.

Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan menimbulkan saling bertentangan bila terus tersiar. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.

Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman ra. Beliau banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah ra. bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan qiraat pada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh, sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf.

Usman ra. kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah ra. untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar ra. yang ada padanya dan Hafsah ra. pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Usman ra. memanggil Zaid bin Tsabit ra, Abdullah bin Az-Zubair ra, Said bin ‘As ra. dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam ra. Ketiga orang terakhir ini adalah orang quraisy, lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid ra. dengan ketiga orang quraisy itu ditulis dalam bahasa Quraisy, karena Qur’an turun dengan logat mereka.

Dari Anas ra,”Huzaifah bin al-Yaman ra. datang kepada Usman ra, ia pernah ikut berperang melawan penduduk Syam bagian Armenia dan Azarbaijan bersama dengan penduduk Iraq. Huzaifah amat terkejut dengan perbedaan mereka dalam bacaan, lalu ia berkata kepada Utsman ra,”Selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana peerselisihan orang-orang yahudi dan nasrani.”

Utsman ra. kemudian mengirim surat kepada Hafsah ra. yang isinya,”Sudilah kiranya anda kirimkan lembaran-lembaran yang berisi Al-Qur’an itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan mengembalikannya.”

Hafsah ra. mengirimkannya kepada Usman ra. dan Usman ra. memerintahkan Zaid bin Sabit ra, Abdullah bin Zubair ra, Sa’ad bin ‘As ra. dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam ra. untuk menyalinnya. Mereka pun menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Usman ra. berkata kepada ketiga orang quraisy itu,”Bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Sabit ra. tentang sesuatu dari Al-Qur’an, maka tulislah dengan logat quraisy karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa quraisy.”

Mereka melakukan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Usman ra. mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah ra. Kemudian Usman ra. mengirimkan salinan ke setiap wilayah dan memerintahkan agar semua Al-Qur’an atau mushaf lainnya dibakar. Dan ditahannya satu mushaf untuk dimadinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal dengan nama “mushaf Imam.” Penamaan mushaf itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat dimana ia mengatakan, ” Bersatulah wahai umat-umat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur’an pedoman).”

Umat pun menerima perintah dengan patuh, sedang qiraat dengan enam huruf lainnya ditinggalkan. Keputusan ini tidak salah, sebab qiraat dengan tujuh huruf itu tidak wajib. Seandainya Rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa qiraat dengan tujuh huruf itu termasuk dalam katergori keringanan. Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut secara mutawatir dan inilah yang terjadi.

Ibn Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah dilakukan oleh Usman: ‘Ia menyatukan umat Islam dengan satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain disobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf ‘berlainan’ dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut, umat pun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa dengan begitu Usman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana. Maka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya sesuai dengan permintaan pemimpinnya yang adil itu, sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya.

Dengan demikian segala qiraat yang lain sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tidak ada. Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ketujuh huruf itu dan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya. Tetapi hal itu bagi kebaikan kaum muslimin itu sendiri. Dan sekarang tidak ada lagi qiraat bagi kaum muslimin selain qiraat dengan satu huruf yang telah dipilih olah imam mereka yang bijaksana dan tulus hati itu. Tidak ada lagi qiraat dengan enam huruf lainya.

Apabila sebagian orang lemah pengetahuan bertanya bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan pula membaca dengan cara itu?, Maka jawab ialah bahwa perintah Rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukkan wajib dan fardu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan (rukshah). Sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajib pula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya dan keraguan harus dihilangkan dari para qari.

Dan karena mereka tidak menyampaikan hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikan Al-Qur’an di kalangan umat yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ke tujuh huruf itu.

Jika memang demikian halnya maka mereka tidak dipandang telah meninggalkan tugas menyampaikan semua qiraat yang tujuh tersebut, yang menjadi kewajigan bagi mereka untuk menyampaikannya. Kewajiban mereka ialah apa yang sudah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan tersebut ternyatasangat berguna bagi islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka sendiri lebih utama dari pada melakukan sesuatu yang malah akan lebih merupakan bencana terhadap islam dan pemeluknya dari pada menyelamatkannya.

Perbedaan antara Pengumpulan Abu Bakar dengan Usman

Dari teks-teks di atas jelaslah bahwa pengumpulan mushaf oleh Abu Bakar ra. berbeda dengan pengumpulan yang dilakukan Usman ra. dalam motif dan caranya. Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Al-Qur’an karena banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban. Sedang motif Usman ra. dalam karena banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an yang disaksikannnya sendiri di daerah-daerah dan mereka saling menyalahkan antara satu dengan yang lain.

Pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan Abu Bakar ra. ialah memindahkan satu tulisan atau catatan Al-Qur’an yang semula bertebaran di kulit-kulit binatang, tulang, dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya serta terbatas dengan bacaan yang tidak dimansukh dan tidak mencakup ke tujuh huruf sebagaimana ketika Qur’an itu diturunkan.

Al-Haris al-Muhasibi mengatakan bahwa yang masyhur di kalangan orang banyak ialah bahwa pengumpul Al-Qur’an itu Usman ra. Padahal sebenarnya tidak demikian, Usman ra. hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat, itupun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir dihadapannya. Serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat. Sebelum itu mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana Qur’an diturunkan. Sedang yang lebih dahulu mengumpulkan Qur’an secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakar as-Sidiq. Dengan usahanya itu Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga isi Qur’an dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.

Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
————————————————————————————————————————————-

GNU/Linux 1:20 pm

Akhirnya kernel GNU/Linux terbaru (2.6.15) sudah mendukung driver TV/FM Tunner Pixelview Play TV Pro Ultra yang mempunyai chip Conexant 2388x. TV/FM tunner saya yang sudah lama menganggur. Ga pernah dipakai di kos, akhirnya saya install di komputer kantor. Lumayanlah bisa denger radio/nonton tv sambil coding. Banyak juga temen yang iri ngeliat tunner saya hihi. Kayak gini ini nih barangnya :

Saya menggunakan kernel terbaru 2.6.15 bawaan Debian. Nama package-nya linux-image-2.6.15-1-686. Modul untuk tunner ini ada 3 buah yaitu cx8800, cx88xx, dan tunner. Untuk modul cx8800 mempunyai 2 options yaitu video_nr=0 dan radio_nr=0. Untuk modul cx8800 mempunyai 2 options juga yaitu card=3 dan tuner=5. Options card=3 menjelaskan tipe card nya adalah Pixelview. Options tuner=5 menjelaskan tipe tunner nya yaitu Philips PAL_BG (FI1216 and compatibles).

Yang perlu dilakukan adalah membuat file baru, namanya terserah, misalnya tv-radio. Letakkan file ini di direktori /etc/modprobe.d. Berikut ini isi file tsb :

install cx88xx modprobe –ignore-install cx88xx card=3 tuner=5
install cx8800 modprobe –ignore-install cx8800 video_nr=0 radio_nr=0
install tuner modprobe –ignore-install tuner

Setelah itu segera load modulnya dengan command :

modprobe cx8800

Otomatis ketiga modul di atas akan di-load oleh kernel. Cek log sistem dengan command :

dmesg

atau

tail -f /var/log/messages

Kira-kira berikut inilah output dari command di atas :

Linux video capture interface: v1.00
cx2388x v4l2 driver version 0.0.5 loaded
ACPI: PCI Interrupt 0000:02:0a.0[A] -> GSI 22 (level, low) -> IRQ 225
CORE cx88[0]: subsystem: 0000:0000, board: PixelView [card=3,insmod option]
TV tuner 5 at 0x1fe, Radio tuner -1 at 0x1fe
tveeprom 1-0050: Huh, no eeprom present (err=-121)?
cx88[0]/0: found at 0000:02:0a.0, rev: 2, irq: 225, latency: 165, mmio: 0xc1000000
tuner 1-0060: All bytes are equal. It is not a TEA5767
tuner 1-0060: chip found @ 0xc0 (cx88[0])
tuner 1-0060: type set to 5 (Philips PAL_BG (FI1216 and compatibles))
cx88[0]/0: registered device video0 [v4l2]
cx88[0]/0: registered device vbi0
cx88[0]/0: registered device radio0

Setelah itu install aplikasinya. Untuk radio player kita bisa gunakan gnomeradio. Sedangkan untuk TV player yang bagus adalah tvtime.

Have fun :) !!

IslamJanuary 12, 2006 3:31 am

Pagi ini saya menemukan bahan bacaan yg bagus untuk dijadikan sebagai tambahan ilmu dan bahan renungan. Ini tentang masalah keraguan hati mencari nafkah di bank ribawi. Bacaan ini saya kutip dari Eramuslim.com di rubrik konsultasi dengan Ustadz. Saya mohon maaf sebelumnya kepada pihak Eramuslim.com karena saya mengutip resource dari Anda tanpa izin :) . Namun lebih dari itu semua, adalah niat saya untuk menjadikan resource ini sebagai dokumentasi pribadi dan juga untuk para pembaca blog saya, karena bagi saya tulisan ini adalah sumber ilmu yg sangat berharga yg harus dijaga dan disebarkan untuk semua saudara muslim. Terima kasih atas jawaban dari Ust. Ahmad Sarwat yg sudah membuat hati ini lega setelah sekian lama terombang-ambing dalam keraguan. Bagi para pembaca, selamat menikmati :) .

————————————————————————————————————————————
Bapak Ustadz yth.
Bagaimana hukumnya sebagai pegawai perbankan konvensional yang telah saya geluti selama +/- 10 tahun dan saya sangat tergantung dengan penghasilan di sini untuk nafkah keluarga. Saya bekerja pada bidang transfer dan pembayaran (payment point), tidak berhubungan dengan dana dan kredit (riba). Mohon petunjuk lebih lanjut

Wassalam,

Jamal Yonada

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah riba pada bank konvensional sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank atau penulisnya, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:

Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya.`(HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki hanya dengan melarang seseorang bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba. Tetapi kerusakan sistem ekonomi yang disebabkan ulah golongan kapitalis ini hanya dapat diubah oleh sikap seluruh bangsa dan masyarakat Islam. Perubahan itu tentu saja harus diusahakan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan guncangan perekonomian yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa.

Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik. Cara ini pernah ditempuh Islam ketika mulai mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad dan kemauan bersama, apabila tekad itu telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar. Setiap muslim yang mempunyai kepedulian akan hal ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lisannya, dan segenap kemampuannya melalui berbagaisarana yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam.

Sebagai contoh perbandingan, di dunia ini terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang berpaham sosialis. Di sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang non muslim seperti Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.

Terlepas dari semua itu, perlu juga diingat bahwa tidak semua pekerjaan yang berhubungan dengan dunia perbankan tergolong riba. Ada di antaranya yang halal dan baik, seperti kegiatan perpialangan, penitipan dan sebagainya. Bahkan boleh dibilang sebenarnya tidak terlalu banyaktransaksiyang termasuk haram.

Oleh karena itu, tidak mengapalah seorang muslim menerima pekerjaan tersebut –meskipun hatinya tidak rela– dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perubahan menuju kondisi yang diridhai agama dan hatinya. Hanya saja, dalam hal ini hendaklah ia rnelaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan kepada Allah beserta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya.

Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan. (HR Bukhari)

Selain itu para fuqaha sering mengenalkan kita istilah darurat. Kondisi inilah yang mengharuskan Anda menerima pekerjaan tersebut sebagai sarana mencari penghidupan dan rezeki, sebagaimana firman Allah SWT:

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.`(QS Al-Baqarah: 173)

Dalil ini memberikan syarat darurat untuk membolehkan seseorang memakan harta yang haram. Dan hal darurat itu harus disesuaikan dengan kadarnya.

Bila Anda punya kesempatan besar untuk mendapatkan job lain yang lebih bersih dan halal, tentu sebaiknya anda segera pindah. Namun bila anda tidak terlalu mudah untuk mendapatkan job lain, janganlah berhenti dulu. Sebab anak istri anda di rumah wajib diberikan nafkah oleh kepala keluarga. Kalau anda berhenti kerja begitu saja, sambil mengabaikan nafkah anak istri, tentu anda jauh lebih berdosa. Jadi sementara ini tetaplah dulu bekerja di sana, sambil mencari dan menunggu kesempatan untuk berhenti.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
————————————————————————————————————————————

GNU/LinuxJanuary 11, 2006 3:02 am

System & Software Specification
===============================
- Debian GNU/Linux Sarge (stable)
- Kernel 2.6.8-2-686
- Lighttpd 1.4.8
- PHP 4.3.10
- Oracle Instant Client (basic, devel & sqlplus) 10.2.0.1

About Lighttpd
==============
Security, speed, compliance, and flexibility–all of these describe LightTPD which is rapidly redefining efficiency of a webserver; as it is designed and optimized for high performance environments. With a small memory footprint compared to other web-servers, effective management of the cpu-load, and advanced feature set (FastCGI, CGI, Auth, Output-Compression, URL-Rewriting and many more) LightTPD is the perfect solution for every server that is suffering load problems. And best of all it’s Open Source licensed under the revised BSD license.
(http://www.lighttpd.net)

Lighttpd FastCGI Interface
==========================
Lighttpd provides an interface to a external programs that support the FastCGI interface. The FastCGI Interface is defined by http://www.fastcgi.com/ and is a platform-independent and server independent interface between a web-application and a webserver.
This means that FastCGI programs that run with the Apache Webserver will run seamlessly with lighttpd and vice versa.

FastCGI is removes a lot of the limitations of CGI programs. CGI programs have the problem that they have to be restarted by the webserver for every request which leads to really bad performance values.

FastCGI removes this limitation by keeping the process running and handling the requests by this always running process. This removes the time used for the fork() and the overall startup and cleanup time which is necessary to create and destroy a process.

While CGI programs communicate to the server over pipes, FastCGI processes use Unix-Domain-Sockets or TCP/IP to talk with the webserver. This gives you the second advantage over simple CGI programs: FastCGI don’t have to run on the Webserver itself but everywhere in the network.

Lighttpd takes it a little bit further by providing a internal FastCGI load-balancer which can be used to balance the load over multiple FastCGI Servers. In contrast to other solutions only the FastCGI process has to be on the cluster and not the whole webserver. That gives the FastCGI process more resources than a e.g. load-balancer+apache+mod_php solution.

If you compare FastCGI against a apache+mod_php solution you should note that FastCGI provides additional security as the FastCGI process can be run under different permissions that the webserver and can also live a chroot which might be different than the one the webserver is running in.
(http://www.lighttpd.net)

Installing Lighttpd
===================
You can not find lighttpd package from Official Debian repository because of its incompatibility license against GPL (lighttpd use revised BSD license). You can get it from another Debian repository like below. So put one of these lines to your sources.list.
deb http://apt.utsl.gen.nz/debian stable all
deb http://debian.bougyman.com unstable main

Download server packages list to your box :
# apt-get update

Now you ready to install lighttpd :
# apt-get install lighttpd

Preparing PHP as a FastCGI Program with Oracle Support
======================================================
PHP4 official package from Debian, by default doesn’t have Oracle support. So, it must be rebuilt from source. Oracle Instant Client (OIC) also needed in this process. So you must install it first. You can download OIC from oracle technology network site : http://www.oracle.com/technology/software/tech/oci/instantclient/htdocs/linuxsoft.html. Get RPM package and then convert it to DEB with alien. Now, you can install it using dpkg. You need to do this as root.
# dpkg -i oracle-instantclient-basic_10.2.0.1-2_i386.deb
# dpkg -i oracle-instantclient-devel_10.2.0.1-2_i386.deb
# dpkg -i oracle-instantclient-sqlplus_10.2.0.1-2_i386.deb
Three steps above will install OIC on /usr/lib/oracle.

Create tnsnames.ora if needed by your application. For quickstart, you can simply adopt from example lines below :
—————————————————————————–
BILLPM =
(DESCRIPTION =
(ADDRESS_LIST =
(ADDRESS = (PROTOCOL = TCP)(HOST = 172.23.154.8)(PORT = 1521))
)
(CONNECT_DATA =
(SERVICE_NAME = billpm)
)
)
—————————————————————————–

You need to tell the system where OIC library can be found. In order to do this, add this line below to file /etc/ld.so.conf :
—————————————————————————–
/usr/lib/oracle/10.2.0.1/client/lib
—————————————————————————–
Then, tell ld to update its cache :
# ldconfig

Create new environment variable which may be needed by your application to connect to Oracle via OIC library. Add these variables to /etc/profile as global profile for all users.
—————————————————————————–
LD_LIBRARY_PATH=/usr/lib/oracle/10.2.0.1/client/lib:$LD_LIBRARY_PATH
TNS_ADMIN=/usr/lib/oracle
export LD_LIBRARY_PATH TNS_ADMIN
—————————————————————————–

Now you can continue your step to enable PHP as FastCGI program. In order to do this, you must rebuild PHP from source. Get the source using apt-get and save it anywhere you want. I like to do this in /usr/src.
# cd /usr/src
# apt-get source php4
You need libssl-dev package also for this. So install it :
# apt-get install libssl-dev

If you already have a working PHP installation, you can create simple PHP script contains :
< ? phpinfo(); ?>
Browse that script via your web browser. You can get the configure parameters on top section of the web page. Use that configure parameters as the base for the compilation. You have to remove all occurences of –with-apxs, –with-apxs2, –with-config-file-path=/etc/php4/apache2 and the like which would build PHP with Apache support. Then add parameters below for configure script :
–enable-fastcgi
–enable-force-cgi-redirect
–with-oci8-instant-client
–with-config-file-path=/etc/php4/lighttpd
Now, the complete version of your configure parameters maybe like below :
–enable-fastcgi –enable-force-cgi-redirect –with-oci8-instant-client –prefix=/usr –with-config-file-path=/etc/php4/lighttpd –enable-memory-limit –disable-debug –with-regex=php –disable-rpath –disable-static –with-pic –with-layout=GNU –with-pear=/usr/share/php –enable-calendar –enable-sysvsem –enable-sysvshm –enable-sysvmsg –enable-track-vars –enable-trans-sid –enable-bcmath –with-bz2 –enable-ctype –with-db4 –with-iconv –enable-exif –enable-filepro –enable-ftp –with-gettext –enable-mbstring –with-pcre-regex=/usr –enable-shmop –enable-sockets –enable-wddx –disable-xml –with-expat-dir=/usr –with-xmlrpc –enable-yp –with-zlib –without-pgsql –with-kerberos=/usr –with-openssl=/usr –with-zip=/usr –enable-dbx –with-mime-magic=/usr/share/misc/file/magic.mime –with-exec-dir=/usr/lib/php4/libexec –without-mm –without-mysql –without-sybase-ct

Run buildconf on top of PHP source directory with –force to force regenerate config :
# ./builconf –force
# rm -f *.cache
# ./configure –enable-fastcgi –enable-force-cgi-redirect –with-oci8-instant-client –prefix=/usr –with-config-file-path=/etc/php4/lighttpd –enable-memory-limit –disable-debug –with-regex=php –disable-rpath –disable-static –with-pic –with-layout=GNU –with-pear=/usr/share/php –enable-calendar –enable-sysvsem –enable-sysvshm –enable-sysvmsg –enable-track-vars –enable-trans-sid –enable-bcmath –with-bz2 –enable-ctype –with-db4 –with-iconv –enable-exif –enable-filepro –enable-ftp –with-gettext –enable-mbstring –with-pcre-regex=/usr –enable-shmop –enable-sockets –enable-wddx –disable-xml –with-expat-dir=/usr –with-xmlrpc –enable-yp –with-zlib –without-pgsql –with-kerberos=/usr –with-openssl=/usr –with-zip=/usr –enable-dbx –with-mime-magic=/usr/share/misc/file/magic.mime –with-exec-dir=/usr/lib/php4/libexec –without-mm –without-mysql –without-sybase-ct

And now you can start compiling :
# make
If nothing wrong happen, you can simply install new PHP version :
# make install

Play with Configuration
=======================
Modify file /etc/lighttpd/lighttpd.conf in section server.modules and activate fastcgi module (”mod_fastcgi”). If you want to use PATH_INFO and PHP_SELF in you PHP scripts you have to configure php and lighttpd. The /etc/php4/lighttpd/php.ini (you can copy php.ini if it not exist there, from /etc/php4/apache2 if you have a working installation before) needs the option:

cgi.fix_pathinfo = 1

and the option broken-scriptfilename in your /etc/lighttpd/lighttpd.conf at fastcgi.server section :
—————————————————————————–
fastcgi.server = ( “.php” =>
( “localhost” =>
( “socket” => “/tmp/php-fastcgi.socket”,
“bin-path” => “/usr/bin/php”,
“bin-environment” => (
“PHP_FCGI_CHILDREN” => “16″,
“PHP_FCGI_MAX_REQUESTS” => “10000″
),
“bin-copy-environment” => (
“PATH”, “SHELL”, “USER”
),
“broken-scriptfilename” => “enable”
)
)
)
—————————————————————————–

Why this ? the cgi.fix_pathinfo = 0 would give you a working PATH_INFO but no PHP_SELF. If you enable it, it turns around. To fix the PATH_INFO –enable-discard-path needs a SCRIPT_FILENAME which is against the CGI spec, a broken-scriptfilename. With cgi.fix_pathinfo = 1 in php.ini and broken-scriptfilename => “enable” you get both.

End of Work
===========
If you already running apache or apache2 before, you have to shutdown it first :
# /etc/init.d/apache stop
or
# /etc/init.d/apache2 stop

Then start lighttpd :
# /etc/init.d/lighttpd start

Well …everything has been done completely !

GNU/Linux, NewsJanuary 9, 2006 2:27 am

Setelah sekian lama mencari RSS Reader/Agregator yang bagus buat GNOME akhirnya ketemu juga ..namanya blam. Fitur-fiturnya lumayan deh, klo buat saya sih sudah mencukupi. Berikut ini fitur-fiturnya untuk versi 1.8.2 (bawaan Debian Sid/Unstable) :
- Support untuk RSS & RDF feeds
- Interface nya yang simple dan mudah digunakan
- Otomatis update untuk interval waktu tertentu (bisa disetting parameternya)
- Print news yang Anda inginkan

Berikut ini screenshotnya :

Bagi para debianer :

apt-get install blam

Have fun :D !!